Skip to main content

Cipo

Cipo adalah anak, eh, kucing kedua dalam keluarga kecil kami. Kami memeliharanya sekitar empat bulan setelah mengadopsi Luki. Cipo, si kucing emper toko, begitulah asal cerita dan namanya.

Di suatu pagi di bilangan Beji, Depok, hampir tujuh tahun yang lalu. Aku baru saja selesai belanja sayur dan lauk ketika mampir di sebuah toko kelontong. Di sanalah kutemuinya, anak kucing lucu tiduran di atas tumpukan kardus di depan toko kelontong. Warna putih bertotol abu-abu membuatnya tampak menggemaskan. Kuelus dan kusapa dia. Eh pemilik toko mempersilakanku membawanya. Kutanya, induknya mana. Pemilik toko berkata sepertinya sudah disapih, induknya meninggalkannya di sekitar toko, entah mereka tinggal dimana.

Aku tak yakin ingin menambah satu kucing lagi, belum tentu juga Luki bisa menerimanya. Akupun berlalu menuju rumah. Tak disangka, kucing kecil itu mengikutiku di belakang. Kucoba mengusirnya dengan halus tapi dia terus mengikutiku sambil mengeong pelan. Nuraniku mulai terusik. Aku selama ini percaya kucinglah yang memilih manusianya, bukan sebaliknya. Maka kuputuskan meminta kardus kecil ke toko tadi untuk membawanya pulang.

Mulailah bab kisah kami bersama Cipo.

Comments

Popular posts from this blog

Understanding and Curing Limerence

(Excerpt from limerence.net, nothing was written by me)The phases of limerence
Like other addictions, we see limerence originating from early life psychological wounding. We use it to fill a hole in our soul.  We  describe  limerence as the mother of all distractions and when working with clients in limerence we are  curious to uncover what is it the person avoiding dealing with?  So often there is deep unresolved emotional pain. The client has protected themselves by covering their hearts over the years and decades with layers and layers of reinforced concrete.  This was a survival mechanism necessary from growing up in a dysfunctional and often narcissistic family system. The reality is limerence never lasts – typically it spans from 6-36 months. Just long enough for us to pair-bond and continue the survival of the species. Recent advances in neuroimaging and neurochemistry are now mapping out these pathways for romantic love. We also feel limerence is a gateway to grief. It marks …

Sort of Mid Life Crisis

Let's call it a premature mid life crisis
A time in my thirties
When everything goes everywhere
Or in another term
Goes nowhereA time when things are pretty much "it"
All the excitement has wore down
Nothing big to anticipateMaybe it's too much to say
Everything's downhill from here
But it's probably trueNot that I'm not grateful
I'm just being realistic
Maybe I had too many adrenaline in the past
So life's now seems so dullHappiness and fun comes in very different sizes, boxes and colors
Maybe I'm just not ready yet
To get tiny pale yellow boxes every other day
When deep inside I'm still waiting for that big shiny rainbow boxLife can never be as fun and thrilling as it was beforeOr can it?

Anti Proliferasi Reuni

Sebenarnya apa yang mendorong orang -dan maksudku BANYAK sekali orang- mengadakan reuni beberapa tahun terakhir?Satu hal yang jelas, sejak meluasnya penggunaan media sosial, orang "berumur" (sudah punya cukup umur dan alasan) semakin mudah terhubung dengan kawan lamanya, dari berbagai tingkatan sekolah dan jenjang studi. Ini memudahkan mereka mengetahui kabar dan lokasi masing-masing, juga untuk mengkoordinasi acara reuni itu sendiri.Sejujurnya aku jengah dengan fenomena reuni ini. Kalau dulu, reuni itu dianggap layak disebut reuni karena dilakukan setelah sepuluh, dua puluh bahkan tiga puluh tahun sejak lulus. Sekarang, sepertinya setiap tahun ada saja acara temu alumni atau reuni. Malah jadi tidak istimewa menurutku.Secara pribadi, aku bukan peminat reuni. Kalau memang ingin kumpul dengan teman lama (yang tentu saja teman paling dekat tidak akan lebih dari sepuluh orang per tingkat sekolah), aku akan datangi mereka di rumah, mengundang ke rumahku, atau janjian bertemu di r…