Skip to main content

Sebelum Aku Pergi

Sebelum aku pergi
Akan kuhirup dalam-dalam aroma senja di tepi Sansiro
Kupandang lekat setiap pucuk daun dan kuntum bunga
Kupejamkan mata sambil perlahan mengenang
Setiap masa yang telah terlewati di atas tanah sunyi ini

Sebelum aku pergi
Akan kurekam dalam-dalam pemandangan dari kaca jendelaku
Setiap emosi, tawa canda ceria kalian
Gundah gulana gelisah kalian
Yang datang dan pergi secepat wajah baru
Yang hadir setiap awal tahun ajaran

Sebelum aku pergi
Akan kekemasi setiap lembar tak beraturan
Kurapikan buku bacaan yang tak sempat kutamatkan
Kutata ulang berkas dan laporan saksi mata bisu
Kucermati setiap goresan yang tersisa
Adakah kiranya yang berhak kubawa

Sebelum aku pergi
Akan kuucap lirih rasa sesal dan syukur
Atas semua yang kualami dan kuhikmahi
Kudekap erat setiap ide, nilai, rasa dan cinta
Lalu kusimpan dalam lubuk hati terdalam

Terimakasih

Comments

Popular posts from this blog

Understanding and Curing Limerence

(Excerpt from limerence.net, nothing was written by me)The phases of limerence
Like other addictions, we see limerence originating from early life psychological wounding. We use it to fill a hole in our soul.  We  describe  limerence as the mother of all distractions and when working with clients in limerence we are  curious to uncover what is it the person avoiding dealing with?  So often there is deep unresolved emotional pain. The client has protected themselves by covering their hearts over the years and decades with layers and layers of reinforced concrete.  This was a survival mechanism necessary from growing up in a dysfunctional and often narcissistic family system. The reality is limerence never lasts – typically it spans from 6-36 months. Just long enough for us to pair-bond and continue the survival of the species. Recent advances in neuroimaging and neurochemistry are now mapping out these pathways for romantic love. We also feel limerence is a gateway to grief. It marks …

Karir Impian: Jaman SD

Tak sedikit tokoh pendidikan dan pemerhati minat bakat yang menyebut tahun-tahun pertama kehidupan kita acapkali memberi petunjuk penting tentang bakat atau karir yang cocok untuk kita.Saya tidak sedang memiliki keleluasaan waktu untuk mencari landasan ilmiah pernyataan di atas, jadi dalam sepotong tulisan ini saya akan berbagi kisah dan perenungan sederhana. Tentang bagaimana saya saat usia SD memandang minat, bakat, dan satu kata menyebalkan yang sering ditanyakan orang dewasa pada anak-anak: cita-cita.Sejujurnya, saya tidak terlalu ingat masa kecil saya. Bisa dibilang ingatan saya buruk. Ingatan nama orang, ingatan surat-surat pendek, nama ibukota negara, atau ingatan tanggal peristiwa sejarah, mudah sekali menguap. Untungnya perekaman bahasa, logika dan makna saya tidak terlalu jelek. Jadi, silakan ragukan waktu tepatnya kejadian dalam tulisan ini.Minat
Apa yang saya sukai saat SD? Yang saya enjoy lakukan? Hm, dari cerita keluarga, saya sangat menikmati membaca dan belajar. Wow. B…

Before The Last Day

Tomorrow's my last day of being an office worker.What do I feel right now?Relief. Of not having a big system above me.
Rushed. Of moving out files and stuffs
Longing. Starting to notice what I'll be missing.
Poised. As if time stand still in this place.
Anxious. Of the challenges ahead.I'm still breathing.
I'm alive.